Pengetahuan
yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori
jangka panjang
dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan
informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi.
Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor
stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran,
ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang
bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam
dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan
bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan
multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan
dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan
untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang
berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada
stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian, pengorganisasian,
serta pengintegrasian elemen-elemen informasi
tersebut disajikan oleh
Gambar 1.
Dalam
mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut
dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar
mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media
berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu
pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian
animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan
informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses
penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan
tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui
teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang
berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar
(dua desain pesan yang berbeda), atau
dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari
sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian
telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional
mempengaruhi kualitas performansi. Beberapa teori yang melandasi perancangan
desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori
muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda
manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan
informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori
kerja auditori. Teori muatan kognitifmenyatakan bahwa setiap memori kerja
memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan
bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika
informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke
dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan .
Temuan-temuan
penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding
theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent
yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan
informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut
memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal
terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan
bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya
menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Menurut Robert S. Siegler ada
tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
1. Proses Berpikir (Thinking)
Menurut pendapat Siegler
(2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam
hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding),
merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka
sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu
yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan
menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi,
ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan
sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses
informasi juga terbatas.
2. Mekanisme Pengubah (Change
Mechanism)
Siegler (2002)
berpendapat bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah
pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat
mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif
anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan
generalisasi.
a. Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan
informasi ke dalam memori . Seperti halnya teori Gagne yang menyatakan
informasi dipilih secara selektif, maka dalam encoding menyandikan informasi
yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama
dalam problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk
melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.
Ada enam konsep yang dikenal dalam
encoding, yaitu :
1). Atensi
Atensi adalah mengonsentrasikan dan
memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan
adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas
(Mangels, Piction, & Craik, 2001).
2).
Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah
repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di
dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu
menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat.
3).
Pemrosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa
pengulangan (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk
menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert
Lockhart 1972) menyatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai
level.
4)
Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas
pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi
kepada murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka
diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus
utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah
cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
5). Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra
dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986)
percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal
atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik
dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam mengigat informasi
itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji
guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua
ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).
6). Penataan
Apabila murid menata
(mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka
akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasi yang disampaikan, semakin mudah
untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hirarkis
atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi
penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi
menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan
dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih
bermakna.
b. Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk
memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha . Peristiwa ini
terjadi karena pertambahan usia dan pengalaman individu sehingga
otomatis dalam memproses informasi, yaitu cepat dalam mendeteksi kaitan atau
hubungan dari peristiwa-peristiwa yang baru dengan peristiwa yang sudah
tersimpan pada memori dan akhirnya akan menemukan ide atau pengetahuan baru
dari setiap kejadian.
c. Konstruksi
Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan
prosedur baru untuk memproses informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa
anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan
mengkoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan
untuk memecahkan masalah.
d. Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah,
maka manfaat dari langkah ketiga yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada
proses generalisasi, yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi
strategi pada permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer,
yaitu suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan
sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.
3. Modifikasi
Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan
informasi secara mendalam tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau
kognisi atau mengetahui tentang mengetahui, yang di dalamnya
terdapat dua hal yaitu pengetahuan kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan
usaha monitoring dan refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang,
sedangkan aktivitas kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan
mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan
suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri
Deanna Kuhn mengatakan metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk
membantu anak menjadi pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah.
Baginya ketrampilan kognitif terbagi dua, yaitu mengutamakan
kemampuan murid untuk mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui
pengetahuannya sendiri.
Michael Pressly dan rekan
- rekannya seperti yang telah dikutip Santrock, mereka
telah mengembangkan model metakognitf yang disebut model pemrosesan informasi
yang baik. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari
sejumlah faktor yang saling berinteraksi.
Daftar
pustaka
https://www.google.co.id/search?ie=ISO-88591&q=teori+pemrosesan+informasi+berbantuan+multimedia&btnG=telusuri

Bagaimana cara memodifikasikan pengetahuan baru dalam pembelajaran kimia?
BalasHapuscontohnya : pada materi sitem tabel periodik unsur yang mana terdapat banyak sekali unsur yang perlu diketahui namun sangat sulit untuk menghapal satu per satu setiap unsur tersebut. cara memodifikasi nya dengan memberikan cara mudah untuk mengingat unsur tesebut misalnya pada golongan II A yaitu Be,Mg,Ca,Sr,Ba,Ra jadi untuk mempermudahnya dengan menyebutkan nya seperti ini : Beli(Be) Mangga (Mg) Campur ( Ca) sirsak (Sr) banyak (Ba) rasa (Ra). jadi hal tersebut mempermudah siswa dalam mengingat unsur pergolongan .
BalasHapusJadi memodifikasi disinii maksudnya merubah suatu materi dengan cara tertentu sesuai keinginan agar mudah masuk kedalam otak dan mampu di simpan dimemori kita?
BalasHapussedikit menambahkan :
BalasHapustahapan pemprosesan informasi dalam pembelajaran,
Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
o motivasi;
o pemahaman;
o pemerolehan;
o penyimpanan;
o ingatan kembali;
o generalisasi;
o perlakuan;
o umpan balik.
Dalam hal ini bukan materi yang diubah melainkan bagaimana seorang pendidik membuat suatu materi yang dianggap sulit menjadi lebih menarik sehingga mudah dipahami oleh peserts didik.
BalasHapussaya annisa puspa nim:a1c115038 ingin bertanya
BalasHapusjelaskan tujuan umum penggunaan pendekatan inkuiri pada siswa dalam proses belajar mengajar ?
sedikit menambahkan
BalasHapusMenurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran
pendekatan inkuiri sebagai suatu model pembelajaran yang terpusat pada siswa, yang mana siswa didorong untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri, yaitu bertanya, merumuskan permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dan guru hanya berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil berfikir (minds-on activities) karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik (hands-on activities) seperti terampil merangkai alat percobaan dan sebagainya.
BalasHapustambahan , Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
BalasHapusDalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:
1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.
sedikit menambahkan,
BalasHapusRobert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi)
Gagne membuat rumusan yang berisi urutan untuk menimbulkan peristiwa pembelajaran, yaitu :
a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
h. Mengevaluasi hasil belajar, dan
i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu :
Benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
Gagne merumuskan “ The domains of Learning “, yaitu :
Kemampuan belajar manusia yang terbagi kepada lima kategori :
a. Motor/skill : ketramppilan motorik.
b. Informasi verbal : dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar.
c. Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan dunia luar yang berkaitan dengan symbol-simbol.
d. Strategi kognitif : organisasi keterampilan yang internal.
e. Sikap.
Gagne membuat rumusan tahapan dalam tujuan dan tingkatan belajar :
Tahapan tujuan belajar diawali dari yang mudah (rendah), sedang, ke sulit (tinggi), dan tahapan ini berbanding lurus dengan tahapan proses belajar, yaitu dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Adapun tingkatan belajar ada empat : belajar fakta, belajar konsep, belajar prinsip, dan pemecahan masalah (Harjanto, 2000 : 159).
bagaimana suatu informasi dapat menjadi ingatan jangka panjang? lalu apa yang harus dilakukan agar setiap informasi yang diterima dapat menjadi ingatan jangka panjang? jelaskan!
BalasHapusApakah faktor stimulus berpengearuh penting dalam pemrosesan suatu informasi?
BalasHapusberikan contoh pada masing-masing enam konsep yang dikenal dalam encoding?
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagaimana menurut anda media yang baik agar ketika menggunakan media tersebut, informasi yang diberikan ke siswa lebih mudah masuk ke ingatan jangka panjangnya?
BalasHapusbagaimana usaha yang dapat kita lakukan agar ingata atau informasi yang kita miliki tidak lupa/hilang?
BalasHapushanya menambahkan sedikit:
BalasHapusBerdasarkan asumsi yang telah digambarkan diatas. Agar pembelajaran penuh makna
terjadi dalam lingkungan multimedia, maka menurut Mayer (2009:80) orang yang belajar
harus melibatkan diri kedalam lima proses kognitif yaitu:
(1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja verbal,
(2) memilih gambar-gambar yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja visual,
(3) me-nata kata-kata yang terpilih kedalam model mental verbal,
(4) menata gambar-gambar yang terpilih kedalam model mental visual,
(5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
sedikit menambahkan
BalasHapusTeori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
Teori belajar pemrosesan informasi/ sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Menurut teori sibernetik, "belajar" adalahpemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar berlangsung, sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
tolong dijelaskan kembali dengan kata-kata yang padat dan mudah dimengerti mengenai gambar teori kognitif pembelajaran bermultimedia yang anda masukkan(dengan menganggap saya sebagai siswa yang membaca hal ini). terimakasih
BalasHapusManfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
BalasHapus1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
Kelemahan dari long term memory adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya. Menurut anda bagaimana cara mengatasinya?
BalasHapusMemori jangka panjang ini berasal dari memori jangka pendek yang selalu diulang-ulang dan berkesan bagi individu sehingga informasi yang ia terima dapat bersifat permanen dan bila suatu saat ia butuhkan maka akan teringat lagi. Informasi yang sudah tersimpan di dalam penyipanan jangka panjang ini sulit untuk hilang, sehingga dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa penyimpanan jangka panjang adalah penyimpanan jangka pendek yang mendapat pengulangan. Kata lainnya kata lainnya penyimpanan jangka panjang tidak akan terbentuk tanpa adanya pengulangan.
BalasHapusDapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah merupakan kata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka waktu yang lama. Itulah sebabnya, ada guru berpengalaman yang menyatakan kepada siswanya bahwa akan jauh lebih baik untuk belajar 6 × 10 menit daripada 1 × 60 menit.
Faktor stimulus sangat berpengaruh dalam proses pemasukan informasi . Contoh nya pengaruh stimulus pada sebuah persepsi :
BalasHapusTahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.
Ada enam konsep yang dikenal dalam pengkodean (encoding), yaitu :
BalasHapus1. Atensi yaitu mengkonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental.
2. Pengulangan yaitu repetisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada dalam memori.
3. Pemrosesan mendalam, pada bagian ini Fergus Craik dan Robert Lockhart mengatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
4. Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan informasi dalam penyandian. Jadi, saat pendidik menyajikan konsep demokrasi pada peserta didik, maka mereka akan mengingatnya dengan lebih baik jika diberikan contoh yang bagus tentang demokrasi.
5. Mengkonstruksi citra
Allan Paivio percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara yaitu sebagai kode verbal atau kode citra/imaji dan menggunakan kode mental.
Sebagai contoh, pada saat seseorang mengkonstruksi citra berarti ia telah mengelaborasi informasi, seperti menghitung jumlah jendela di rumahnya. Mungkin seseorang akan mengalami kesulitan saat menyebutkan jumlah jendela secara keseluruhan, tetapi ia akan mudah menjawab ketika menggunakan kode mental yaitu dalam mengkonstruksi citra ia dapat menyebutkan jumlah jendela dengan berjalan secara mental di seluruh bagian rumahnya.
6. Penataan
Penataan atau pengorganisasian informasi dalam kaitannya dengan penyandian pada memori, maka hal ini akan membawa pengaruh terhadap pemahaman, dengan kata lain, semakin baik seorang pendidik menata informasi dalam menyajikan materi pelajaran, maka semakin mudah peserta didik untuk memahami dan mengingatnya dalam memori.
media yang baik agar ketika menggunakan media tersebut, informasi yang diberikan ke siswa lebih mudah masuk ke ingatan jangka panjangnya dengan membuat media yang menarik misalnya powerpoint dengan video yang menarik sehingga dapat menarik perhatian siswa dan dapat masuk kedalam ingatan jangka panjang siswa
BalasHapusAgar informasi tidak cepat hilang maka harus adanya pengulangan ataupun dengan penjelasan materi dengan menarik agar selalu diingat dan dipahami oleh siswa
BalasHapusDiasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
BalasHapusPengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.
Saya sependapat bahwaKelemahan dari long term memory adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya. Cara mengatasi nya adalah dengan sering membaca dan mendengar sehingga secara tidak langsung informasi akan mudah diingat kembali atau dipanggil
BalasHapusBerdasarkan asumsi yang telah digambarkan diatas. Agar pembelajaran penuh makna
BalasHapusterjadi dalam lingkungan multimedia, maka menurut Mayer (2009:80) orang yang belajar
harus melibatkan diri kedalam lima proses kognitif yaitu:
(1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja verbal,
(2) memilih gambar-gambar yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja visual,
(3) me-nata kata-kata yang terpilih kedalam model mental verbal,
(4) menata gambar-gambar yang terpilih kedalam model mental visual,
(5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
Sedikit menambahkan
BalasHapusBerdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Bebantuan Multimedia Berdasarkan Teori Beban Kognitif yang dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa''
Untuk menghindari pemahaman yang berbeda terhadap istilah sehingga peneliti memberikan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Multimedia adalah media yang digunakan dalam pembelajaran yaitu dengan microsoft powerpoint
2. Beban kognitif merupakan suatu beban mental (mental load) yang terkait dengan perbedaan tugas yang diminta dengan kemampuaan seseorang untuk menguasai tugas tersebut.
3. Teori beban kognitif (Cognitive load Theory) merupakan suatu teori yang menjelaskan fenomena yang dihasilkan oleh pembelajaran dengan memper-timbangkan kemampuan dan batasan rancangan kognitif manusia, teori ini menghubungkan desain karakteristik beban pembelajaran dengan prinsip pengolahan informasi.
4. Pembelajaran berbantuan multi mediaberdasarkan teori beban kognitif merupakan pembelajaran yang dapat mengelola beban kognitif intrinsic, merendahkan beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germany dengan langkah-langkah (a) menginformasikan
tujuan pembelajaran melalui powerpoint, (b) menyampaikan materi dengan powerpoint, (c) membentuk kelompok (4-5 anak), (d) memberikan tugas (KLS) yang dikerjakan secara
berkelompok, (e) memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan (f) membuat rangkuman tentang materi yang telah dipelajari.