Sabtu, 11 Februari 2017

TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MULTIMEDIA





Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori
jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia instruksional. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut. Proses penyeleksian, pengorganisasian, serta pengintegrasian elemen-elemen informasi
tersebut disajikan oleh Gambar 1.

Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desan pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi. Beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitifmenyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan .
Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.

Menurut Robert S. Siegler ada tiga karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :
1.      Proses Berpikir (Thinking)
Menurut pendapat Siegler (2002), berpikir (thinking) adalah pemrosesan informasi. Dalam hal ini Siegler memberikan perspektif luas tentang apa itu penyandian (encoding), merepre-sentasikan, dan menyimpan informasi dari dunia sekelilingnya, mereka sedang melakukan proses berpikir. Siegler percaya bahwa pikiran adalah sesuatu yang sangat fleksibel, yang menyebabkan individu bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam lingkungan, tugas, dan tujuan. Tetapi, ada batas kemampuan berpikir manusia ini. Individu hanya dapat memerhatikan sejumlah informasi yang terbatas pada satu waktu, dan kecepatan untuk memproses informasi juga terbatas.
2.      Mekanisme Pengubah (Change Mechanism)
Siegler (2002) berpendapat  bahwa dalam pemrosesan informasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dan perkembangan. Dia percaya bahwa ada empat mekanisme yang bekerja sama menciptakan perubahan dalam keterampilan kognitif anak: encoding (penyandian), otomatisasi, konstruksi strategi, dan generalisasi.
a.        Encoding (penyandian)
Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori . Seperti halnya teori Gagne yang menyatakan informasi dipilih secara selektif, maka dalam encoding menyandikan informasi yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan adalah aspek utama dalam problem solving. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis.

Ada enam konsep yang dikenal dalam encoding, yaitu :
1). Atensi
Atensi adalah mengonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental. Salah satu keahlian penting dalam memerhatikan adalah seleksi. Atensi bersifat selektif karena sumber daya otak terbatas (Mangels, Piction, & Craik, 2001).
2).  Pengulangan (rehearsal)
Pengulangan (rehearsal) adalah repitisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada di dalam memori. Pengulangan akan bekerja dengan baik apabila murid perlu menyandikan dan mengingat daftar item untuk periode waktu yang singkat.
3). Pemrosesan mendalam
Setelah diketahui bahwa pengulangan  (rehearsal) bukan cara yang efisien untuk menye-diakan informasi untuk memori jangka panjang (Fergus Craik dan Robert Lockhart 1972) menyatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
4)  Elaborasi
Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan memori dalam penyandian. Jadi saat anda menyajikan konsep demokrasi kepada murid, mereka kemungkinan mengingatnya dengan lebih baik jika mereka diberi contoh lebih bagus dari demokrasi. Mencari contoh adalah cara yang bagus utuk mengelaborasi informasi. Misalnya, referensi diri (self-reference) adalah cara yang efektif untuk mngelaborasi informasi.
5). Mengkonstruksi citra (imaji)
Ketika kita mengkonstruksi citra dari sesuatu, kita sedang mengelaborasi informasi. Allan Paivio (1971, 1986) percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara: sebagai kode verbal atau sebagi kode citra/imaji. Paivio mengatakan bahwa semakin detail dan unik dari suatu kode citra, maka semakin baik memori anda dalam mengigat informasi itu. Para peneliti telah menemukan bahwa mengajak anak untuk menggunakan imaji guna mengingat informasi verbal adalah cara yang baik bagi anak yang lebih tua ketimbang anak yang lebih muda (Schneider & pressley, 1997).
6). Penataan
Apabila murid menata (mengorganisasikan) informasi ketika mereka menyediakanya, maka memori mereka akan banyak terbantu. Semakin tertata imformasi yang disampaikan, semakin mudah untuk mengingatnya. Ini terutama berlaku jika menata imformasi secara hirarkis atau menjelaskannya. Chunking (“pengemasan”) adalah strategi penataan memori yang baik, yakni dapat mengelompokan atau “mengepak” informasi menjadi unit-unit “higherorder” yang dapat diingat sebagai satu tunggal. Chunking dilakukan dengan membuat sejumlah besar informasi menjadi lebih mudah dikelola dan lebih bermakna.
b.        Otomatisasi
Otomatisasi adalah kemampuan untuk memproses informasi dengan sedikit atau tanpa usaha . Peristiwa ini terjadi karena pertambahan usia dan pengalaman  individu sehingga otomatis dalam memproses informasi, yaitu cepat dalam mendeteksi kaitan atau hubungan dari peristiwa-peristiwa yang baru dengan peristiwa yang sudah tersimpan pada memori dan akhirnya akan menemukan ide atau pengetahuan baru dari setiap kejadian.
c.         Konstruksi Strategi
Konstruksi strategi adalah penemuan prosedur baru untuk memproses informasi. Dalam hal ini Siegler menyatakan bahwa anak perlu menyandikan informasi kunci untuk suatu problem dan mengkoordinasikan informasi tersebut dengan pengetahuan sebelumnya yang relevan untuk memecahkan masalah. 
d.        Generalisasi
Untuk melengkapi mekanisme pengubah, maka manfaat dari langkah ketiga yaitu konstruksi strategi akan terlihat pada proses generalisasi, yaitu kemampuan anak dalam mengaplikasikan konstruksi strategi pada permasalahan lain. Pengaplikasian itu melalui proses transfer, yaitu suatu proses pada saat anak mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan sebelumnya untuk mempelajari atau memecahkan problem dalam situasi yang baru.
3.        Modifikasi Diri
Modifikasi diri dalam pemrosesan informasi secara mendalam tertuang dalam metakognisi, yang berarti kognisi atau kognisi atau mengetahui tentang mengetahui, yang  di dalamnya terdapat dua hal yaitu pengetahuan kognitif dengan aktivitas kognitif.
Pengetahuan kognitif melibatkan usaha monitoring dan refleksi pada pemikiran seseorang pada saat sekarang, sedangkan aktivitas kognitif terjadi saat murid secara sadar menyesuaikan dan mengelola strategi pemikiran mereka pada saat memecahkan masalah dan memikirkan suatu tujuan.
Berkaitan dengan modifikasi diri Deanna Kuhn mengatakan metakognisi harus lebih difokuskan pada usaha untuk membantu anak menjadi pemikir yang lebih kritis, terutama di sekolah menengah. Baginya ketrampilan kognitif   terbagi dua, yaitu mengutamakan kemampuan murid untuk mengenali dunia, dan ketrampilan untuk mengetahui pengetahuannya sendiri. 
Michael Pressly  dan rekan - rekannya seperti  yang  telah dikutip Santrock, mereka telah mengembangkan model metakognitf yang disebut model pemrosesan informasi yang baik. Model ini menyatakan bahwa kognisi yang kompeten adalah hasil dari sejumlah faktor yang saling berinteraksi.
Daftar pustaka
https://www.google.co.id/search?ie=ISO-88591&q=teori+pemrosesan+informasi+berbantuan+multimedia&btnG=telusuri

30 komentar:

  1. Bagaimana cara memodifikasikan pengetahuan baru dalam pembelajaran kimia?

    BalasHapus
  2. contohnya : pada materi sitem tabel periodik unsur yang mana terdapat banyak sekali unsur yang perlu diketahui namun sangat sulit untuk menghapal satu per satu setiap unsur tersebut. cara memodifikasi nya dengan memberikan cara mudah untuk mengingat unsur tesebut misalnya pada golongan II A yaitu Be,Mg,Ca,Sr,Ba,Ra jadi untuk mempermudahnya dengan menyebutkan nya seperti ini : Beli(Be) Mangga (Mg) Campur ( Ca) sirsak (Sr) banyak (Ba) rasa (Ra). jadi hal tersebut mempermudah siswa dalam mengingat unsur pergolongan .

    BalasHapus
  3. Jadi memodifikasi disinii maksudnya merubah suatu materi dengan cara tertentu sesuai keinginan agar mudah masuk kedalam otak dan mampu di simpan dimemori kita?

    BalasHapus
  4. sedikit menambahkan :
    tahapan pemprosesan informasi dalam pembelajaran,
    Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu,
    o motivasi;
    o pemahaman;
    o pemerolehan;
    o penyimpanan;
    o ingatan kembali;
    o generalisasi;
    o perlakuan;
    o umpan balik.

    BalasHapus
  5. Dalam hal ini bukan materi yang diubah melainkan bagaimana seorang pendidik membuat suatu materi yang dianggap sulit menjadi lebih menarik sehingga mudah dipahami oleh peserts didik.

    BalasHapus
  6. saya annisa puspa nim:a1c115038 ingin bertanya

    jelaskan tujuan umum penggunaan pendekatan inkuiri pada siswa dalam proses belajar mengajar ?

    BalasHapus
  7. sedikit menambahkan
    Menurut Mayer dan Moreno (2010), teori kognitif pembelajaran yang disajikan pada Gambar 1 didasarkan pada teori beban kognitif dengan fokus mengurangi beban kognitif siswa. Teori beban kognitif memuat tiga jenis pengolahan kognitif selama belajar, yaitu:
    1. Beban kognitif intrinsic (intrinsic cognitive load) merupakan beban pikiran dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan tuntutan konten.
    2. Beban kognitif germane (germane cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh tuntutan untuk mengintegrasikan informasi baru dengan pengetahuan sebelumnya.
    3. Beban kognitif extraneous (extraneous cognitive load) merupakan beban pikiran yang dialami siswa selama pembelajaran yang diakibatkan oleh kerja pikiran yang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran

    BalasHapus
  8. pendekatan inkuiri sebagai suatu model pembelajaran yang terpusat pada siswa, yang mana siswa didorong untuk terlibat langsung dalam melakukan inkuiri, yaitu bertanya, merumuskan permasalahan, melakukan eksperimen, mengumpulkan dan menganalisis data, menarik kesimpulan, berdiskusi dan berkomunikasi. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dan guru hanya berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil berfikir (minds-on activities) karena mereka mengalami keterlibatan secara mental dan terampil secara fisik (hands-on activities) seperti terampil merangkai alat percobaan dan sebagainya.

    BalasHapus
  9. tambahan , Robert Gagne seorang ahli psikologi pendidikan mengembangkan teori belajar yang mencapai kulminasinya (titik uncak) pada “The Condition of Learning”. Banyak gagasan Gagne tentang teori belajar, seperti belajar konsep dan model pemrosesan informasi, pada bukunya “The Condition of Learning” mengemukakan bahwa: Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
    Dalam bukunya Robert M. Gagne disebutkan bahwa : A very special kind of intellectual skill, of particular in probelem solving, is called a cognitive strategy. In term of modern learning theory, a cognitive strategy is a control process . An internal process by means of which thinking. Gagne mengemukakan delapan fase dalam satu tindakan belajar. Fase-fase itu merupakan kejadian-kejadian eksternal yang dapat distrukturkan oleh siswa atau guru. Setiap fase dipasangkan dengan suatu proses yang terjadi dalam pikiran siswa. Kejadian-kejadian belajar itu akan diuraikan dibawah ini, yaitu:

    1. Fase motivasi : siswa yang belajar harus diberi motivasi untuk memanggil informasi yang telah dipelajari sebelumnya.
    2. Fase pengenalan : siswa harus memberikan perhatian pada bagian-bagian yang esensial dari suatu kejadian instruksional, jika belajar akan terjadi.
    3. Fase perolehan : apabila siswa memperhatikan informasi yang relevan, maka ia telah siap untuk menerima pelajaran.
    4. Fase retensi : informasi baru yang diperoleh harus dipindahkan dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang. Ini dapat terjadi melalui penggulangan kembali
    5. Fase pemanggilan : pemanggilan dapat ditolong dengan memperhatikan kaitan-kaitan antara konsep khususnya antara pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya.
    6. Fase generalisasi : biasanya informasi itu kurang nilainya, jika tidak dapat diterapkan diluar konteks di mana informasi itu dipelajari.
    7. Fase penampilan : tingkah laku yang dapat diamati. Belajar terjadi apabila stimulus mempengaruhi individu sedemikan rupa sehingga performancenya berubah dari situasi sebelum belajar kepada situasi sesudah belajar.
    8. Fase umpan balik : para siswa harus memperoleh umpan balik tentang penampilan mereka yang menunjukkan apakah mereka telah atau belum mengerti tentang apa yang diajarkan.

    BalasHapus
  10. sedikit menambahkan,
    Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya : The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa ; Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja Dan Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi)

    Gagne membuat rumusan yang berisi urutan untuk menimbulkan peristiwa pembelajaran, yaitu :
    a. Pembelajaran yang dilakukan dikondisikan untuk menimbulkan minat peserta didik, dan dikondisikan agar perhatian peserta didik terpusat pada pembelajaran sehingga mereka siap untuk menerima pelajaran.
    b. Memulai pelajaran dengan menyampaikan tujuan pembelajaran agar peserta didik mengetahui apa yang diharapkan setelah menerima pelajaran.
    c. Guru harus mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari sebelumnya.
    d. Guru siap untuk menyampaikan materi pelajaran.
    e. Dalam pembelajaran guru memberikan bimbingan atau pedoman kepada siswa untuk belajar.
    f. Guru memberikan motivasi untuk memunculkan respon siswa.
    g. Guru memberikan umpan balik atau penguatan atas respon yang diberikan siswa baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.
    h. Mengevaluasi hasil belajar, dan
    i. Memperkuat retensi dan transfer belajar.
    Gagne membuat 7 macam pengelompokan media, yaitu :
    Benda untuk didemostrasikan, komunikasi lisan, media cetak, gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
    Gagne merumuskan “ The domains of Learning “, yaitu :
    Kemampuan belajar manusia yang terbagi kepada lima kategori :
    a. Motor/skill : ketramppilan motorik.
    b. Informasi verbal : dapat menjelaskan sesuatu dengan berbicara, menulis, menggambar.
    c. Kemampuan intelektual, yaitu kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan dunia luar yang berkaitan dengan symbol-simbol.
    d. Strategi kognitif : organisasi keterampilan yang internal.
    e. Sikap.

    Gagne membuat rumusan tahapan dalam tujuan dan tingkatan belajar :
    Tahapan tujuan belajar diawali dari yang mudah (rendah), sedang, ke sulit (tinggi), dan tahapan ini berbanding lurus dengan tahapan proses belajar, yaitu dari yang paling sederhana ke yang kompleks. Adapun tingkatan belajar ada empat : belajar fakta, belajar konsep, belajar prinsip, dan pemecahan masalah (Harjanto, 2000 : 159).

    BalasHapus
  11. bagaimana suatu informasi dapat menjadi ingatan jangka panjang? lalu apa yang harus dilakukan agar setiap informasi yang diterima dapat menjadi ingatan jangka panjang? jelaskan!

    BalasHapus
  12. Apakah faktor stimulus berpengearuh penting dalam pemrosesan suatu informasi?

    BalasHapus
  13. berikan contoh pada masing-masing enam konsep yang dikenal dalam encoding?

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  15. Bagaimana menurut anda media yang baik agar ketika menggunakan media tersebut, informasi yang diberikan ke siswa lebih mudah masuk ke ingatan jangka panjangnya?

    BalasHapus
  16. bagaimana usaha yang dapat kita lakukan agar ingata atau informasi yang kita miliki tidak lupa/hilang?

    BalasHapus
  17. hanya menambahkan sedikit:
    Berdasarkan asumsi yang telah digambarkan diatas. Agar pembelajaran penuh makna
    terjadi dalam lingkungan multimedia, maka menurut Mayer (2009:80) orang yang belajar
    harus melibatkan diri kedalam lima proses kognitif yaitu:
    (1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja verbal,
    (2) memilih gambar-gambar yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja visual,
    (3) me-nata kata-kata yang terpilih kedalam model mental verbal,
    (4) menata gambar-gambar yang terpilih kedalam model mental visual,
    (5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

    BalasHapus
  18. sedikit menambahkan
    Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
    Pemrosesan informasi itu sendiri secara sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data, menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya. Bahkan orientasi utama pada modelnya mengarah kepada kemampuan siswa dalam mengolah, menguasai informasi sehingga dapat memperbaiki kesalahan-kesalahan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang akan didapatkannya.
    Teori belajar pemrosesan informasi/ sibernetik merupakan teori belajar yang relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Menurut teori sibernetik, "belajar" adalahpemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses belajar berlangsung, sangat ditentukan oleh sistem informasi dari pesan tersebut. Oleh sebab itu, teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu jenispun cara belajar yang ideal untuk segala situasi. Sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.

    BalasHapus
  19. tolong dijelaskan kembali dengan kata-kata yang padat dan mudah dimengerti mengenai gambar teori kognitif pembelajaran bermultimedia yang anda masukkan(dengan menganggap saya sebagai siswa yang membaca hal ini). terimakasih

    BalasHapus
  20. Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
    1.Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
    2.Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
    3.Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
    4.Prinsip perbedaan individual terlayani.
    Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
    1.Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
    2.Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
    3.Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan
    4.Kemampuan otak tiap individu tidak sama.

    BalasHapus
  21. Kelemahan dari long term memory adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya. Menurut anda bagaimana cara mengatasinya?

    BalasHapus
  22. Memori jangka panjang ini berasal dari memori jangka pendek yang selalu diulang-ulang dan berkesan bagi individu sehingga informasi yang ia terima dapat bersifat permanen dan bila suatu saat ia butuhkan maka akan teringat lagi. Informasi yang sudah tersimpan di dalam penyipanan jangka panjang ini sulit untuk hilang, sehingga dapat diingat dengan mudah. Jelaslah bahwa penyimpanan jangka panjang adalah penyimpanan jangka pendek yang mendapat pengulangan. Kata lainnya kata lainnya penyimpanan jangka panjang tidak akan terbentuk tanpa adanya pengulangan.
    Dapatlah disimpulkan sekarang bahwa pengulangan merupakan kata kunci dalam proses pembelajaran. Karenanya, latihan selama di kelas atau di rumah merupakan kata kunci yang akan sangat menentukan keberhasilan atau ketidak berhasilan suatu pengetahuan yang diingat dalam jangka waktu yang lama. Itulah sebabnya, ada guru berpengalaman yang menyatakan kepada siswanya bahwa akan jauh lebih baik untuk belajar 6 × 10 menit daripada 1 × 60 menit.

    BalasHapus
  23. Faktor stimulus sangat berpengaruh dalam proses pemasukan informasi . Contoh nya pengaruh stimulus pada sebuah persepsi :
    Tahap penerimaan stimulus, baik stimulus fisik maupun stimulus sosial melalui alat indera manusia, yang dalam proses ini mencakup pula pengenalan dan pengumpulan informasi tentang stimulus yang ada.
    Tahap pengolahan stimulus sosial melalui proses seleksi serta pengorganisasian informasi.
    Tahap perubahan stimulus yang diterima individu dalam menanggapi lingkungan melalui proses kognisi yang dipengaruhi oleh pengalaman, cakrawala, serta pengetahuan individu.

    BalasHapus
  24. Ada enam konsep yang dikenal dalam pengkodean (encoding), yaitu :
    1. Atensi yaitu mengkonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental.
    2. Pengulangan yaitu repetisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada dalam memori.
    3. Pemrosesan mendalam, pada bagian ini Fergus Craik dan Robert Lockhart mengatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
    4. Elaborasi
    Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan informasi dalam penyandian. Jadi, saat pendidik menyajikan konsep demokrasi pada peserta didik, maka mereka akan mengingatnya dengan lebih baik jika diberikan contoh yang bagus tentang demokrasi.
    5. Mengkonstruksi citra
    Allan Paivio percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara yaitu sebagai kode verbal atau kode citra/imaji dan menggunakan kode mental.
    Sebagai contoh, pada saat seseorang mengkonstruksi citra berarti ia telah mengelaborasi informasi, seperti menghitung jumlah jendela di rumahnya. Mungkin seseorang akan mengalami kesulitan saat menyebutkan jumlah jendela secara keseluruhan, tetapi ia akan mudah menjawab ketika menggunakan kode mental yaitu dalam mengkonstruksi citra ia dapat menyebutkan jumlah jendela dengan berjalan secara mental di seluruh bagian rumahnya.
    6. Penataan
    Penataan atau pengorganisasian informasi dalam kaitannya dengan penyandian pada memori, maka hal ini akan membawa pengaruh terhadap pemahaman, dengan kata lain, semakin baik seorang pendidik menata informasi dalam menyajikan materi pelajaran, maka semakin mudah peserta didik untuk memahami dan mengingatnya dalam memori.

    BalasHapus
  25. media yang baik agar ketika menggunakan media tersebut, informasi yang diberikan ke siswa lebih mudah masuk ke ingatan jangka panjangnya dengan membuat media yang menarik misalnya powerpoint dengan video yang menarik sehingga dapat menarik perhatian siswa dan dapat masuk kedalam ingatan jangka panjang siswa

    BalasHapus
  26. Agar informasi tidak cepat hilang maka harus adanya pengulangan ataupun dengan penjelasan materi dengan menarik agar selalu diingat dan dipahami oleh siswa

    BalasHapus
  27. Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
    Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video.

    BalasHapus
  28. Saya sependapat bahwaKelemahan dari long term memory adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya. Cara mengatasi nya adalah dengan sering membaca dan mendengar sehingga secara tidak langsung informasi akan mudah diingat kembali atau dipanggil

    BalasHapus
  29. Berdasarkan asumsi yang telah digambarkan diatas. Agar pembelajaran penuh makna
    terjadi dalam lingkungan multimedia, maka menurut Mayer (2009:80) orang yang belajar
    harus melibatkan diri kedalam lima proses kognitif yaitu:
    (1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja verbal,
    (2) memilih gambar-gambar yang relevan untuk pemprosesan dalam materi kerja visual,
    (3) me-nata kata-kata yang terpilih kedalam model mental verbal,
    (4) menata gambar-gambar yang terpilih kedalam model mental visual,
    (5) memadukan representasi verbal dan visual dengan pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

    BalasHapus
  30. Sedikit menambahkan
    Berdasarkan permasalahan yang sudah diuraikan maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “ Pembelajaran Bebantuan Multimedia Berdasarkan Teori Beban Kognitif yang dapat Meningkatkan Pemahaman Siswa''

    Untuk menghindari pemahaman yang berbeda terhadap istilah sehingga peneliti memberikan beberapa istilah sebagai berikut:
    1. Multimedia adalah media yang digunakan dalam pembelajaran yaitu dengan microsoft powerpoint
    2. Beban kognitif merupakan suatu beban mental (mental load) yang terkait dengan perbedaan tugas yang diminta dengan kemampuaan seseorang untuk menguasai tugas tersebut.
    3. Teori beban kognitif (Cognitive load Theory) merupakan suatu teori yang menjelaskan fenomena yang dihasilkan oleh pembelajaran dengan memper-timbangkan kemampuan dan batasan rancangan kognitif manusia, teori ini menghubungkan desain karakteristik beban pembelajaran dengan prinsip pengolahan informasi.
    4. Pembelajaran berbantuan multi mediaberdasarkan teori beban kognitif merupakan pembelajaran yang dapat mengelola beban kognitif intrinsic, merendahkan beban kognitif extraneous dan meningkatkan beban kognitif germany dengan langkah-langkah (a) menginformasikan
    tujuan pembelajaran melalui powerpoint, (b) menyampaikan materi dengan powerpoint, (c) membentuk kelompok (4-5 anak), (d) memberikan tugas (KLS) yang dikerjakan secara
    berkelompok, (e) memberikan kesempatan pada siswa untuk mempresentasikan hasil kerja kelompoknya dan (f) membuat rangkuman tentang materi yang telah dipelajari.

    BalasHapus